Peregrination88’s Weblog

Desember 29, 2007

pemilu untuk yudikatif

Diarsipkan di bawah: opini — peregrination87 @ 5:54 am

setiap negara dewasa ini menerapkan triaspolitikal rosseou, sehingga didalam negara tersebut terbagi atas tiga komponen legislatif, eksekutif dan yudikatif. yang kita ketahui selama ini bahwa pemilu dilakukan hanya untuk pemilihan legislatif dan eksekutif. baiklah untuk pemilu legislatif dan eksekutif tidak usah disinggung.

memang, konsep yang matang pemilu untuk yudikatif saya belum mendapatkan gambaran yang begitu jelas. melihat dari kondisi negara yang carut marut sudah barang tentu ada yang salah dari sistem yang dijalankan oleh negara ini. artinya perlu perubahan dari sistem yang ada. salah satunya dengan pemliu untuk yudikatif. jika selama ini yudikatif (Mahkamah Agung, jaksa agung da lain-lain) dipilih atas dasar pengajuan dari eksekutif dan disahkan oleh legislatif terlalu banyak intervensi, sehingga penerapan hukum dinegara kita selalu diselesaikan dengan lobi politik. dan yang terjadi kemudian adalah ketimpangan hukum, artinya mereka yang mempunyai akses politik yang kuat maka mereka itulah yang menang. sehingga hukum yang berkeadilan dan sesuai dengan kebenaran yang nyata belum pernah tercapai.

Muammar kadhafi dalam konteks ini pernah mengatakan bahwa hukum yang baik itu adalah hukum yang diambil dari nilai agama dan budaya. menurut saya maksud muammar disini adalah ketika dasar hukum disari dari keduanya maka sudah barang tentu melibatkan masyarakat banyak yaitu rakyat. selama ini rakyat tidak dapat menentukan sendiri “penghukum” mereka sendiri. sehingga, rakyat tidak pernah tahu kepada siapa yudikatif bertanggung jawab. yang selama ini rakyat ketahui adalah bahwa yudikatif bertanggung jawabnya kepada yang Maha kuasa barang tentu.

maka yang harus dilakukan demokrasi untuk pemilihan yudikatif.

buah salak dikampus

Diarsipkan di bawah: sosial — peregrination87 @ 2:17 am

setiap hari ada nenek-nenek datang kekampusku(PTS dijogja bagian barat). biasanya yang ia jual buah salak. lumayan… kebetulan aku pernah membeli buah salak yang ia jual. rasanya manis dan enak, salak pondoooh….. aku kalo kekampus mesti ketemu dia. kalo umurnya udah lanjut. terus uniknya lagi ia bawa daganganya keliling kampus, sambil menawarkan kepada mahasiswa, dosen ataupun karyawan. yang jelas setiap orang yang ia temui mesti ditawari.

memang luar biasa nenek tersebut. satu sisi ia memang membuat pemandangan dikampus kurang nyaman. sepertinya dikampusku ngga ada tata tertib saja. namun semua orang dapat memakluminya, mungkin nenek tersebut ngga bisa baca peringatan yang ada di pintu masuk. sisi yang lain aku salut dengan nenek itu, secara ilmu pemasaran ia cukup jeli melihat pangsa pasar, dimana ia jualan ditempat yang ngga ada sainganya. sebab kalo ia jualan dipasar ia akan kalah dengan penjual yang banyak modalnya, dan kalo jualan dimal mesti ngga boleh, sebab akan merusak “pemandangan”. kemudian kalo jualnya dikakilima mungkin ia takut dikejar sapol PP, sedangkan ia tau, kalo lari ngga kuat lagi, udah lapuk…hehe mesti ketangkap…

nek… nenek kasihan betul nasibmu, udah tua renta masih saja engkau berjuang untuk bertarung mengarungi hidup. memang nek, zaman sudah gila…, tak ada yang memperhatikan kita, padahal kita punya negara yang dikelola oleh pemerintah. engkau boleh menanyakan hakmu kepada mereka, sebab yang menggaji pemerintah itu kita, bukan siapa siapa. selayaknya diusiamu yang demikian, engkau seharusnya menikmati hidup dengan lebih baik…tanpa harus bersusah payah.

nenek tersebut hanya satu dari berjuta juta rakyat indonesia yang mengalami nasib sperti dia bahkan lebih buruk…

simbur tjahaja (sumber cahaya)

Diarsipkan di bawah: sosial — peregrination87 @ 12:41 am

Undang-undang

simbur tjahaja

perobahan baharu menurut ketetapan jang

diputuskan dalam permusjawaratan utusan-

utusan Kepala-Kepala anak Negeri pada

tanggal 2 sampai 6 september 1927

dipalembang

 

BAB KE SATU

ADAT BUDJANG GADIS DAN KAWIN

Pasal. 1

Jikalau budjang gadis hendak kawin misti orang tua budjang dan orang tua gadis memberi tahu pasirah atau kepala dusun, itulah “Terang” namanja dan budjang bajar adat terangnja itu “upah tuah” atau upah batin 3 ringgit

Dan 1 1/2 (satu setengah) ringgit pulang kepada Pasirah (amit penutup surat2) dan 11 ringgit pulang kepada kepala dusun dan satu ringgit (djuru namanja) pada penggawa-penggawan. (Bersambung…)

Desember 24, 2007

pendidikan gratis…

Diarsipkan di bawah: pendidikan — peregrination87 @ 2:12 am

pendidikan gratis…kapan…?????

sejak dimaklumi bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar manusia, maka seiring itu pula pendidikan selain kesehatan dijadikan komoditas yang terlaris. kalau dahulu pendidikan hanya dapat dinikmati oleh lingkungan kerajaan, atau mereka yang punya akses dikerajaan, kalau sekarang pendidikan dan hasilnya dapat dnikmati oleh setiap kalangan, asal…………………………………………….punya modal.

kita tahu sekarang bahwa masyarakat kita yang miskin sekarang berkisar 16 juta. angka ini menunjukan bahwa mereka benar benar miskin. artinya kehidupan mereka sangatlah minim, jangankan untuk memperoleh pendidikan, makan saja mereka susah. kemudian bagaimana dengan mereka hanya pas-pasan hidupnya, hanya cukup makan.

negara kita kayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali, dimana – mana ada tambang minyak, batu bara, timah tambang semen, belum produk jasa. kalau dihitung hitung bisalah untuk pendidikan gratis. tapi, kok nggak gratis gratis. gimana sih….?ironis… ditengah masyarkat bergelimpangan dengan kemiskinan, eh… DPR minta duit (rakyat) 100 miliyar. konon duit tersebut untuk perbaikan rumah…pak bu… lihat rumah rakyatmu… dari bambu, berlantai tanah, beratap koran, kalau hujan bocor…kalau kemarau debunya banyak… cobalah satu atau dua bulan tinggal dengan mereka… supaya anda dapat merasakan kepedihan mereka.

pak bu masih ingat dengan sila kedua dari pancasila “kemanusiaan yang adil dan beradab”. kalau keadilan mungkin bapak dan ibu DPR lebih pinter untuk mengartikanya, kalau kemanusiaan yang beradab saya bodoh ini cukup mengerti, bahwa anda sekalian tidak lebih dari seekor bulldog yang takut tulangnya diganggu oleh tom (kucing, maaf bagi pembuat film dari hollywood saya memakai karya anda untuk mengandaikan). padahal, apa kekuatan sikucing? sekali gigit saja patah rahangmya. artinya kalau sudah jadi wakil rakyat jangan samalah keinginannya dengan rakyat. cobalah kebijakan berpihak pada mereka yang rumah bambu. sebab, mereka juga punya hak. coba dicerna apa yang pernah dibilang sama plato, bahwa pemerintah yang sama keinginanya dengan rakyat maka tunggulah kehancuran bangsa tersebut.

jadi, kalau niatnya duduk di lingkungan pemerintahan untuk memperoleh jatah yang lebih banyak, besar, dan tak habis untuk turunanya, maka tidak usah anda sekalian repot repot membagikan duit untuk mendapat lebih banyak, pada waktu pemilihan anda sekalian. silahkan simpan duit dan dibuat usaha untuk kebutuhan keluarga, sanak famili dan teatngga anda. begitukan lebih enak dengar dan lihatnya.

Desember 19, 2007

muara enim

Diarsipkan di bawah: sejarah — peregrination87 @ 11:44 am

Sejarah Singkat Muara Enim

Kabupaten Muara Enim yang menginjak usianya yang ke-57 tahun pada tanggal 20 November 2003, telah banyak perubahan pembangunan. Semangat otonomi daerah yang diberikan kewenangan seluas-luasnya untuk mengatur daerahnya secara bertanggung jawab dan berkesinambungan merupakan angin segar bagi kehidupan masyarakatnya.
Semarak peringatan Kabupaten Muara Enim sendiri memang seyogyanya dilaksanakan pada tanggal 20 November 2003 yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Karena itulah terpaksa diundurkan dari jadwal semula yakni upacara baru dilakukan pada hari senin (8/12/03).
Agar efektif dan efisien peringatan Kabupaten Muara Enim digabungkan dengan kegiatan peringatan lainnya, yaitu hari Korpri ke-32, hari Kesehatan nasional ke-39, dan hari Guru Nasional ke-10.
Kabupaten Muara Enim yang memiliki luas 9.531.55 kilometer persegi terletak pada geografis 4-6 derajat lintang selatan (LS) dan 105-106 derajat bujur timur (BT) dengan jumlah kepadatan penduduk mencapai 617.327 (sensus 31 desember 2002), terdiri dari 305.767 laki-laki dan 311.560 jiwa perempuan, dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 90 juta jiwa perkilometer persegi. Sementara penduduk sebahagian besar bermata pencaharian petan, berkebun dan beternak.

Sejarah menyebutkan Kabupaten Muara Enim semasa pemerintahan Hindia Belanda, kebijakan dan politik pemerintahannya masih menggunakan sistem sentralisasi dibawah arus Etsche politik yang kemudian dikembangkan dalam sistem pemerintahan dekosentrasi. Dari dua sistem tersebut telah melahirkan beberapa marga-marga. Disepanjang Sungai Enim mulai dari Marga Semende Darat hingga Marga Tebelang patang Puluh Bububg dan marga-marga disepanjang Sungai Lematang yang digabung menajdi satu wilayah admiistrasi dengan marga Lematang Ilir yang berstatus otonomi daerah dengan kepala pemerintahannya disebut controlleur yang tunduk kepada Afdeeling Palembang Schebeven Lauden yang pada saat itu asisten residennya berkedudukan di Lahat.
Lalu pada masa kedudukan Jepang di ubah menjadi Lematang Simo Gunyang berada di Lahat Sico yang kemudian dibagi wilayah administrasi dengan nama Lematang Ogan Tengah. Pada masa perang fisik dikenal dengan nama Kewedanan Lematang Tengah yang wilayahnya meliputi 14 Marga dan sebagian besar Marganya dalam Onder Afdeeling Lematang Ilir dan sebahagian lagi dalam Onder Afdeeling Ogan Ulu dan Marga Pemerintahan Onder Afdeeling sekayu.
Pada masa Proklamasi 17 Agustus 1945, Wilayah Lematang Ilir dan Wilayah Ogan tengah melalui keputusan Dewan Kepresidenan Palembang pada 20 November 1946 wilayah administrasi Kedewanan Lematang Ilir tidak tidak digabungkan lagi dengan Kabupaten Lahat, selanjutnya dijadikan administratif sendiri dengan Kedewanan diberi nama Lematang Ilir dan Lematang Ogan tengah yang disingkat LIOT.
Bertitik tolak dari sejarah tersebut dengan perda Kabupaten Muara Enim, Lematang Ilir Ogan Tengah dengan No. I/DPRED/1974 tangal 20 November 1974, ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Muara Enim yang jatuh pada 20 November 1946.

angin…

Diarsipkan di bawah: sastra — peregrination87 @ 11:38 am

7.jpg

…angin…

 

adil…

tanpa pamrih…

selalu menjaga…

apabila marah semua hancur berantakan…

ia butuh pemakluman…

hijrah

sejarah palembang

Diarsipkan di bawah: sejarah — peregrination87 @ 11:34 am
Melihat Palembang dari Naskah Kuno

 

HANIFA (38), seorang warga asli Palembang, sulit membayangkan bagaimana kisah pewayangan yang selama ini dianggapnya hanya “milik” masyarakat Pulau Jawa. Kisah pewayangan ternyata pernah berkembang di Palembang yang menjadi ibu kota Sumatera Selatan itu.

 

Pewayangan di Palembang bukan sekadar ada, tetapi berkembang. Namun cerita pewayangan itu mengalami perombakan untuk disesuaikan dengan budaya setempat.< Palembang bukan sekadar ada, tetapi berkembang. Namun cerita pewayangan itu mengalami perombakan untuk disesuaikan dengan budaya p>

Modifikasi itu misalnya, membuat tokoh-tokoh Punakawan “naik pangkat” menjadi golongan bangsawan. Gareng misalnya, disebut sebagai Ki Agus Gareng.

 

Ki Agus adalah salah satu sebutan kebangsawanan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.

 

Selain pewayangan, cerita- cerita rakyat yang sebelumnya banyak berkembang di Pulau Jawa, juga dikisahkan di Palembang dengan modifikasi budaya setempat, misalnya kisah Raden Inu Kertapati atau Ande-Ande Lumut.

 

Cerita-cerita yang ditemukan dalam penelitian Yayasan Naskah Nusantara bekerja sama dengan Tokyo University of Foreign Studies, Agustus lalu, itu menunjukkan keterkaitan Palembang dengan kerajaan-kerajaan di Jawa.

 

Kisah-kisah itu ditulis dalam naskah yang berasal dari abad ke-19, dengan tulisan Arab Melayu.

 

Sejarah Kesultanan Palembang bermula dari kemelut politik yang terjadi di Kesultanan Demak sesudah kematian Trenggana, Raja Demak setelah Raden Patah, serta pemindahan pusat kesultanan di Pajang oleh Prabu Adiwijaya.

 

Kelompok bangsawan yang dikalahkan dalam perseteruan, antara lain adalah Ki Gede Ing Suro bersama pengikutnya, menyingkir dan mendirikan pusat kekuasaan baru di Palembang. Kesultanan Palembang ini didirikan pada abad ke-16.

 

Budayawan Sumatera Selatan Djohan Hanafiah menegaskan, para bangsawan Jawa yang berkeraton di Palembang pada akhirnya beradaptasi dengan budaya Melayu yang sudah tumbuh di daerah ini. Palembang juga merupakan kawasan kosmopolitan, dengan percampuran budaya berbagai bangsa yang datang seiring arus perdagangan.

 

Karakter kosmopolitan ini tentu tak lepas dari latar sejarah Palembang pada masa Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan bahari ini berpengaruh luas di Nusantara, mulai abad VII hingga XI masehi. Pergaulan antarbangsa dan akulturasi budaya turut membentuk karakter daerah ini.

 

Bertepatan dengan 16 Juni lalu, hari jadi ke-1320 tahun Kota Palembang dirayakan. Hari jadi itu ditetapkan pemerintah kota, berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang menandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini berangka tahun 682 masehi, tetapi kelahiran Palembang dihitung setahun lebih muda.

 

Artinya, sejarah ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini lebih panjang dari perjalanan sejarah Kota Baghdad di Irak yang didirikan tahun 762, lebih tua dari Kyoto di Jepang yang didirikan tahun 794, apalagi dibandingkan dengan Jakarta yang berdiri tahun 1527. Namun, rasa memiliki sejarah panjang, tidak mudah dilihat dalam tata nilai sekarang ini.

 

Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam yang jauh lebih muda dari masa Sriwijaya, meninggalkan jejak tak terputus dengan keberadaan Palembang masa kini. Namun, apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan warisan budaya yang paling kasat mata dari masa kesultanan ini terkesan memprihatinkan.

 

Naskah yang berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam misalnya, antara lain ditemukan disimpan saja dalam rak di kamar mandi.

 

KARYA penulisan dengan bahasa dan gaya penulisan tertentu mewakili suatu masa. Substansi yang dipaparkan menyuguhkan wacana yang berkembang pada masa itu. Oleh karena itu, penemuan naskah berperan penting dalam kegiatan apresiasi kebudayaan dan kesejarahan.

 

Penelitian awal yang digelar Yayasan Naskah Nusantara bekerja sama dengan Tokyo University of Foreign Studies di Palembang, Agustus lalu, menemukan bukti produktivitas sastra Melayu di daerah ini pada masa kesultanan.

 

“Dari penelitian awal, sudah terlihat bahwa kegiatan penulisan naskah di Palembang pada masa lalu ternyata sangat aktif dan menonjol,” ujar Dr Achadiati Ikram, pakar filologi Universitas Indonesia (UI), yang bergabung dalam tim peneliti tersebut.

 

Selama sepekan pendataan, tim peneliti ini mencatat sekitar 230 naskah ditemukan pada 15 warga Kota Palembang. Naskah-naskah tersebut berasal dari abad ke-18 dan ke-19.

 

“Kami yakin masih banyak sekali yang tersebar di kalangan masyarakat dan belum tersentuh,” ujar Dr Titik Pudjiastuti, staf pengajar Program Pascasarjana Sastra UI, yang juga bergabung dalam tim ini.

 

Kini, temuan dalam penelitian itu sedang disusun menjadi katalog yang akan dilengkapi dengan deskripsi naskah. Deskripsi diperoleh dari pembacaan masing-masing cetakan naskah yang dipotret. “Katalog ini akan diterbitkan oleh Tokyo University of Foreign Studies,” jelas Titik.

 

Pendataan naskah-naskah kuno di Palembang secara komprehensif belum dilakukan. Katalog pertama yang sedang disusun pun bukan akan diterbitkan di Indonesia.

 

Hal ini menunjukkan, betapa naskah-naskah kuno yang menggambarkan kekayaan intelektual pada masa itu belum banyak dijamah, dipahami, apalagi dimanfaatkan sebagai sumber penggalian sejarah.

 

“Jika mau melihat sejarah, kita mesti pergi ke Belanda atau membaca catatan sejarah yang dibuat Belanda. Padahal, itu merupakan secondary sources yang sangat mungkin disusun dengan sudut pandangan berbeda. Catatan pada naskah- naskah inilah primary sources yang selama ini justru kita abaikan,” tutur doktor filologi ini bernada prihatin.

 

Kekayaan ragam muatan juga sangat mendukung pengembangan berbagai kajian lain, melalui naskah-naskah yang ditemukan. Naskah-naskah kuno di Palembang antara lain merupakan kitab keagamaan, ajaran tasawuf dengan beberapa di antaranya menunjukkan aliran yang berkembang pada masa itu, hingga hikayat dan syair.

 

Silsilah, surat-surat, hingga catatan perjalanan juga ditemukan. Titik mencontohkan, sebuah akta pernikahan yang ditemukan misalnya, dapat menampilkan “potret” salah satu bentuk perjanjian sosial yang dijalankan pada masa itu, sekaligus menjadi sumber sejarah hukum.

 

PENULISAN naskah dapat dipandang sebagai salah satu penuangan budaya “berkelas” paling tinggi pada masa lalu. Djohan Hanafiah, sejarawan Sumatera Selatan, menuturkan, penulisan naskah menuntut kemampuan intelektual, kemampuan ekonomi, dan waktu luang.

 

“Pada masa itu, golongan masyarakat dengan intelektualitas yang cukup, berkemampuan ekonomi memadai, serta dapat mengalokasikan waktu untuk mengapresiasi tulisan sastra atau keagamaan, umumnya adalah para bangsawan,” ujar Djohan.

 

Budayawan yang menulis sejumlah buku sejarah lokal ini meyakini, Sultan Palembang berperan besar dalam pengembangan budaya penulisan di Sumatera Selatan. Kegiatan penulisan mencapai puncaknya pada masa Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II yang diyakini Djohan sebagai pemimpin masa keemasan Kesultanan Palembang.

 

Mujib Ali, peneliti pada kantor Asisten Deputi Urusan Arkeologi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang pernah mendalami penulisan naskah kuno di Palembang, menuturkan, SMB II memang memiliki perpustakaan yang diduga terlengkap di Palembang masa itu. Puluhan naskah yang ditemukan Mujib memang ditandai sebagai milik SMB II.

 

Sayangnya, berbagai sumber sejarah menyebutkan, terjadi pembakaran tempat penyimpanan koleksi naskah pada saat kesultanan dijatuhkan Belanda tahun 1824. Sebagian naskah yang tersisa sempat dibawa oleh Belanda, sebagian lainnya justru dibakar oleh keluarga Sultan untuk menghindarkan pertentangan antarbangsawan.

 

Akan tetapi, peninggalan naskah-naskah yang tersisa hingga saat ini, masih menggambarkan tradisi penulisan yang hidup dalam masyarakat pada masa itu. Mujib menjelaskan, sebelum cetakan batu ditemukan, reproduksi naskah dilakukan dengan menyalin ulang dalam tulisan tangan.

 

“Ditemukan pula penyalinan naskah-naskah yang belum selesai,” ujar Mujib yang meneliti naskah-naskah kuno di Palembang pada kurun waktu 1996-2001.

 

Penyalinan naskah yang dianggap menarik dilakukan dengan meminjam naskah dari pemilik terdahulu, dengan kontrak waktu dan tarif tertentu. Bahkan, ditemukan indikasi adanya keahlian spesialisasi pada orang-orang tertentu dalam penulisan atau penyalinan naskah.

 

“Ada orang-orang tertentu dengan spesialisasi penulisan silsilah, misalnya. Ada pula standar tertentu yang harus dipenuhi seorang penyalin kitab keagamaan yang berbahasa Arab,” jelas Mujib.

 

Kegiatan “perdagangan” naskah, semacam sanggar penulisan dengan spesialisasi tertentu, menunjukkan kegairahan penulisan naskah di Palembang pada masa kesultanan. Sementara itu, koleksi naskah juga memberikan prestise tersendiri bagi pemiliknya.

 

Akan tetapi, belum ditemukan manifestasi kegairahan penulisan seperti itu dalam kegiatan masyarakat Palembang masa kini. “Ibaratnya, kegairahan penulisan ini tidak mengalami reinkarnasi dalam kehidupan masyarakat di daerah ini,” kata Mujib.

 

Karya yang dituangkan dalam kertas tua memang terkesan tidak menarik perhatian kalangan luas masyarakat di kota ini. Mempedulikan kelestarian situs budaya di jantung Kota Palembang pun bukan pekerjaan mudah.

 

Namun, tidak akan pernah ada bangsa yang besar, tanpa belajar dari sejarah. (NUR HIDAYATI)

arti politik

Diarsipkan di bawah: politik — peregrination87 @ 11:21 am
Arti Politik PDF Print E-mail
Written by Swastioko Budhi Suryanto
Tuesday, 16 January 2007

Seorang murid sekolah dasar mendapat pekerjaan rumah dari gurunya untuk menjelaskan arti kata POLITIK. Karena belum memahaminya, ia kemudian bertanya pada ayahnya. Sang Ayah yang menginginkan si anak dapat berpikir secara kreatif kemudian memberikan penjelasan, “Baiklah nak, ayah akan mencoba menjelaskan dengan perumpamaan, misalkan Ayahmu adalah orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga, jadi kita sebut ayah adalah investor. Ibumu adalah pengatur keuangan, jadi kita menyebutnya pemerintah. Kami disini memperhatikan kebutuhan-kebutuhanmu, jadi kita menyebut engkau rakyat. Pembantu, kita masukkan dia ke dalam kelas pekerja, dan adikmu yang masih balita, kita menyebutnya masa depan. Sekarang pikirkan hal itu dan lihat apakah penjelasan ayah ini bisa kau pahami ?”.

Si anak kemudian pergi ke tempat tidur sambil memikirkan apa yang dikatakan ayahnya. Pada tengah malam, anak itu terbangun karena mendengar adik bayinya menangis. Ia melihat adik bayinya mengompol. Lalu ia menuju kamar tidur orang tuanya dan mendapatkan ibunya sedang tidur nyenyak. Karena tidak ingin membangunkan ibunya, maka ia pergi ke kamar pembantu. Karena pintu terkunci, maka ia kemudian mengintip melalui lubang kunci dan melihat ayahnya berada di tempat tidur bersama pembantunya.

Akhirnya ia menyerah dan kembali ke tempat tidur, sambil berkata dalam hati bahwa ia sudah mengerti arti POLITIK.

Pagi harinya, sebelum berangkat ke sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya dan menulis pada buku tugasnya : “Politik adalah hal dimana para Investor meniduri kelas Pekerja, sedangkan Pemerintah tertidur lelap, Rakyat diabaikan dan Masa Depan berada dalam kondisi yang menyedihkan”.

Blog pada WordPress.com.