Peregrination88’s Weblog

Desember 19, 2007

muara enim

Diarsipkan di bawah: sejarah — peregrination87 @ 11:44 am

Sejarah Singkat Muara Enim

Kabupaten Muara Enim yang menginjak usianya yang ke-57 tahun pada tanggal 20 November 2003, telah banyak perubahan pembangunan. Semangat otonomi daerah yang diberikan kewenangan seluas-luasnya untuk mengatur daerahnya secara bertanggung jawab dan berkesinambungan merupakan angin segar bagi kehidupan masyarakatnya.
Semarak peringatan Kabupaten Muara Enim sendiri memang seyogyanya dilaksanakan pada tanggal 20 November 2003 yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Karena itulah terpaksa diundurkan dari jadwal semula yakni upacara baru dilakukan pada hari senin (8/12/03).
Agar efektif dan efisien peringatan Kabupaten Muara Enim digabungkan dengan kegiatan peringatan lainnya, yaitu hari Korpri ke-32, hari Kesehatan nasional ke-39, dan hari Guru Nasional ke-10.
Kabupaten Muara Enim yang memiliki luas 9.531.55 kilometer persegi terletak pada geografis 4-6 derajat lintang selatan (LS) dan 105-106 derajat bujur timur (BT) dengan jumlah kepadatan penduduk mencapai 617.327 (sensus 31 desember 2002), terdiri dari 305.767 laki-laki dan 311.560 jiwa perempuan, dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 90 juta jiwa perkilometer persegi. Sementara penduduk sebahagian besar bermata pencaharian petan, berkebun dan beternak.

Sejarah menyebutkan Kabupaten Muara Enim semasa pemerintahan Hindia Belanda, kebijakan dan politik pemerintahannya masih menggunakan sistem sentralisasi dibawah arus Etsche politik yang kemudian dikembangkan dalam sistem pemerintahan dekosentrasi. Dari dua sistem tersebut telah melahirkan beberapa marga-marga. Disepanjang Sungai Enim mulai dari Marga Semende Darat hingga Marga Tebelang patang Puluh Bububg dan marga-marga disepanjang Sungai Lematang yang digabung menajdi satu wilayah admiistrasi dengan marga Lematang Ilir yang berstatus otonomi daerah dengan kepala pemerintahannya disebut controlleur yang tunduk kepada Afdeeling Palembang Schebeven Lauden yang pada saat itu asisten residennya berkedudukan di Lahat.
Lalu pada masa kedudukan Jepang di ubah menjadi Lematang Simo Gunyang berada di Lahat Sico yang kemudian dibagi wilayah administrasi dengan nama Lematang Ogan Tengah. Pada masa perang fisik dikenal dengan nama Kewedanan Lematang Tengah yang wilayahnya meliputi 14 Marga dan sebagian besar Marganya dalam Onder Afdeeling Lematang Ilir dan sebahagian lagi dalam Onder Afdeeling Ogan Ulu dan Marga Pemerintahan Onder Afdeeling sekayu.
Pada masa Proklamasi 17 Agustus 1945, Wilayah Lematang Ilir dan Wilayah Ogan tengah melalui keputusan Dewan Kepresidenan Palembang pada 20 November 1946 wilayah administrasi Kedewanan Lematang Ilir tidak tidak digabungkan lagi dengan Kabupaten Lahat, selanjutnya dijadikan administratif sendiri dengan Kedewanan diberi nama Lematang Ilir dan Lematang Ogan tengah yang disingkat LIOT.
Bertitik tolak dari sejarah tersebut dengan perda Kabupaten Muara Enim, Lematang Ilir Ogan Tengah dengan No. I/DPRED/1974 tangal 20 November 1974, ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Muara Enim yang jatuh pada 20 November 1946.

2 Tanggapan »

  1. http://segoblog.wordpress.com
    hmm, sama sama baru belajar ngeblog neh
    sing sabar wae
    seing penting nulis ben ra stress

    Comment oleh aghosty — Desember 23, 2007 @ 9:18 am

  2. Assalamu’alaikum..

    Perlu juga kita ketahui, bahwa di tepi sungai lematang tepatnya kawasan dusun ulak bandung ada makam bersejarah, yaitu Puyang Marto Soko Penembahan Senapati Adipati Jipang. Mudah-mudahan dapat sebagai referensi untuk dinas pariwisata sumatera selatan dalam membangun citra budayanya.

    Comment oleh Dhilan Djalani Kusumaputra — April 15, 2008 @ 11:09 am


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah tanggapan

Blog pada WordPress.com.