Peregrination88’s Weblog

Januari 9, 2008

soeharto dan “kumpul sanak pedusunan”

Diarsipkan di bawah: sosial — Tag:, , , , , , — peregrination87 @ 3:32 am

dikabupaten muara enim, kecamatan lubai tepatnya dusun Jiwa Baru ada banyak sisa kearifan lokal yang dapat ditemui.  kearifan ini dibilang sisa tidak lain akibat dari kebijakan desanisasi yang dilakukan oleh pemerintah orde baru. untuk mempertahankan  kestabilan politik demi mencapai pembangunan ekonomi yang “semu”, maka ditelurkanlah kebijakan bahwa setiap organisasi harus ikut kebijakan pusat. perlu diketahui sebelum menjadi desa/kelurahan organisasi terkecil dari pemerintahantersebut setiap daerah tidaklah sama. misalkan di sumatera selatan ada marga dan di padang sumatera barat ada nagari serta masih banyak lagi “marga” dan “nagari” lain yang lkut tergusur. sehingga seiring dengan kenyataan tersebut maka banyak sekali menghilangkan kearifan lokal yang tentunya dapat menjadi bahan rujukan landasan hukum dan kebijakan bagi daerah masing-masing.

kearifan lokal seyogyanya lebih dapat menyelami dan memahami keadaan masyarakatnya tidak dapat ditampikan. Sebagai bahan perbandingan, Jepang (menjajah Indonesia tiga tahun setengah-pen) sebagai mana kita ketahui dengan kebudayaan sangat kental melekat pada masyarakatnya sudah mampu menandingi kemampuan negara maju, seperti Amerika dan negara di Eropa. Hal yang paling sederhana mereka lakukan yang dapat kita temui adalah pada teknologi komputer, dimana jika dilihat bahwa komputer mereka jarang sekali memakai bahasa selain Jepang. Dengan demikian adanya kebijakan seperti ini, maka akselerasi pemajuan masyarakat akan tercapai. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa yang terjadi di Jepang dapat juga dilakukan dibangsa Indonesia.

Pernikahan  dikalangan masyarakat kita sudah menjadi adat kebiasaan bahwa harus dibarengi perhelatan, paling tidak kumpul dan makan bersama. Begitu pula yang terjadi didusun Jiwa Baru. Tentunya dalam suatu perhelatan harus ada persiapan-persiapan. Begitu juga adat kebiasaan yang ada di masyarakat Jiwa Baru. Pada prinsipnya persiapan yang dilakukan hampir sama dengan keadaan “umum”. misalkan pembentukan panitia acara perhelatan, pengumpulan dana dan sebagainya. Perbedaan yang mendasar dari keadaan yang terjadi dimasyarakat Jiwa Baru terletak pada pencarian dana untuk perhelatan.

Kalau yang berlaku diumum bahwa pencarian dana untuk resepsi pernikahan (walimahan) terjadi pada waktu acara resepsi itu pun setelah ada dana pribadi atau bantuan dari sanak saudara. maka yang terjadi dimasyarakat ini pengumpulan dana dilakukan empat hari sebelum hari jadi acara, namanya “kumpul sanak pedusunan”. adapun pengumpulan dana tersebut caranya mengumpulkan seluruh masyarakat tanpa terkecuali. pengumpulan orang untuk datang kerumah yang punya hajatan caranya dipanggil kerumah masing-masing. penggilan dilaksanakan oleh utusan tuan rumah masyarakat menyebutnya “tukang panggil”. memang kurang efisien kalau ditinjau dari sisi waktu. namun dengan adanya tatap muka seperti itu maka jalinan silaturahmi terjadi disini. Sehingga, terjadilah sosialisasi yang mengakibatkan terjadi keakraban yang merupakan landasan untuk penyatuan masyarakat.

kemudian setelah orang berkumpul maka penarikan dana dilakukan. biasannya ada petugas yang keliling untuk melakukan pengambilan uang. dan selama penarikan dana berlangsung setiap orang yang hadir  dipersilakan menyantap hidangan yang telah disediakan tuan rumah. kemudian syarat untuk melakukan acara ini adalah: pertama pihak mempelai laki-laki. Sekilas terkesan ada bias gender disini. namun, jika dilihat lebih jauh maka pihak laki-laki akan banyak mengeluarkan biaya ketika melakukan perhelatan. kemudian yang kedua pihak perempuan dapat juga melaksanakan acara ini jika pihak mempelai laki-laki dari luar masayarakat Jiwa Baru.

Tulisan ini segelintir dari curahan kearifan lokal yang harus dipertahankan dan perlu diadakan pengembangan. Dan tentunya acara seperti ini tidak hanya dilakukan dalam wilayah pernikahan namun juga dapat dilakukan diwilayah yang lebih luas, misalkan wilayah pendidikan, pembangunan dan lain sebagainya. Sehingga pemajuan masyarakat dapat dicapai dengan jalan yang ringan. “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”.Dan perlu lagi digalikearifan lokal yang telah hilang sebagai ikutan dari kebijakan desanisasi soeharto.

 

 

Januari 8, 2008

bola

Diarsipkan di bawah: sosial — Tag:, , , , , , , — peregrination87 @ 11:57 pm

siapa yang tidak kenal dengan permainan bola. permainan yang mengutamakan kekompakan dan kejelian pelatih mempersiapan materi pemain yang mempunyai skill serta dukungan modal yang besar sudah menjadi santapan umum. permainan yang berkembang pesat diEropa abad 19 ternyata usut punya usut yang menemukannya ternyata bangsa china. dalam kenyataanya permainan ini juga menjadi perlambang dari kemajuan peradaban suatu bangsa atau negara. pembanguna stadion megah dengan peralatan canggih dan kapasitas penonton puluhan ribu. hal ini juga dapat dilihat dari struktur organisasi yang menaungi club besar. Katakanlah Inggris, dimana liga sepak bola di negara ini sangatlah subur. pada setiap awal dan tengah musim terjadi bursa transfer besar-besaran. sehingga dalam “perdagangan” pemain terjadi peredaran uang sangat besar. angka transfer pemain mencapai jutaan dollar. ironis, ditengah kemelaratan, kemiskinan dan keterbelakangan dinegara “dunia ketiga” dinegara maju hanya sekedar permainan “mereka” rela merongoh kocek sebesar jutaan dollar untuk pembelian pemain. Kemudian timbul pertanyaan dari mana uang pembelian pemain dapat dikembalikan.

kenyataan diatas tidak dapat dipungkiri, sebab semua negara bangsa dewasa ini sudah masuk kewilyah dimana sepak bola sudah menjadi tontonan utama. kapitalisme sebagai aktor utama mengambil peran sehingga sepak bola menjadi komoditas paling laris. dengan larisnya tontonan ini laiknya industri musik yang mendapat double platinum menyebabkan perusahaan meraup keuntungan sangat besar. kemudian sebagai jaminan adalah kinerja dari pemain dan kecerdikan pelatih dituntut kerja optimal. hal ini dapat digamabarkan dengan super sibuknya club bertanding di berbagai event. misalkan saja di Inggris ada beberapa event, Liga primier ship, FA, Carling, dan bagi club masuk kualifikasi championship akan bertambah lagi kerja. artinya semakin club tersebut banyak menuai prestasi semakin memiliki jam terbang, sehingga terkuras juga tenaga club. kenyataan ini ditandai oleh banyak cideranya para pemain. kemudian, akibat dari semakin tinggi jam terbang akan pula diiringi melimpah ruah pemasukan club. ada pun pemasukan club yaitu dari penjualan aksesoris club, ticket, dan pembayaran dari perusahaan yang beriklan.

Munculnya sepak bola sebagai permainan modern tidak lepas dari watak industrialisasi dan kapitalisme yang berkembang pesat di Eropa. Lahirnya klub-klub lokal mulai akhir Abad ke-19 dan awal Abad ke-20 menandai sebuah perubahan besar dalam sejarah sepak bola. Watak industrialisasi menyusup dalam permainan tersebut. Sistem industri dan kapitalisasi, seperti yang digambarkan Adam Smith, dicirikan dengan proses spesialisasi pekerjaan untuk mengejar produksi massal yang berorientasi pasar. Singkatnya, ada pembagian kerja yang jelas dalam ekonomi industri.

Demikian pula, yang akhirnya terjadi pada sepak bola. Sepak bola yang mungkin awalnya sekadar permainan keroyokan dan asal tendang bola, lalu berkembang menjadi sepak bola yang canggih. Spesialisasinya cukup jelas, ada striker bertugas menyerang, ada gelandang menyuplai bola, dan ada pula bek yang bertugas mempertahankan gawang. Pola pembagian kerja ini sama dengan buruh dalam sebuah pabrik mobil, ada yang bertugas mengelas, ada yang memasang baut, ada yang mengecat, dan sebagainya. Pembagian tugas itu semakin dipertegas dengan istilah-istilah posisi pemain yang cukup rumit, ada defender, sweeper, stopper, libero, playmaker, dan bomber.

Contoh penegasan pembagian tugas itu, misalnya seorang bek yang ikut maju menyerang dan melupakan tugasnya bertahan akan dimaki pelatih jika timnya kebobolan. Selain itu, sangat jarang pemain yang biasa bermain sebagai bek dipasang oleh pelatih di posisi striker karena akan mengacaukan pekerjaan. Spesialisasi tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Pelatih cukup mengamati pertandingan, mengatur strategi, dan mengganti pemain. Sedangkan penonton boleh bersorak mendukung timnya, petugas medis hanya menolong pemain yang cedera, dan petugas keamanan hanya menjaga ketertiban penonton. Namun, pembagian kerja seperti ini ternyata tidak berlaku di negara agraris yang secara sosiologis masih mempunyai kultur komunalitas, ketimbang spesialisasi pekerjaan. Kecenderungan untuk konsentrasi pada satu hal kerap kali muncul dalam sepak bola. Misalnya di Inggris, polisi di pinggir lapangan menghadap ke penonton dan mewaspadai jika ada penonton yang ingin berbuat kerusuhan, jelas sesuai tugasnya.

melihat struktur, spesialisasi dan kinerja dari organisasi persepakbolaan, maka layaklah industri ini sebagai usaha alternatif. kemudian dapat juga dilihat bahwa dalam industri ini terjadi eksploitasi tenaga manusia.

Desember 29, 2007

buah salak dikampus

Diarsipkan di bawah: sosial — peregrination87 @ 2:17 am

setiap hari ada nenek-nenek datang kekampusku(PTS dijogja bagian barat). biasanya yang ia jual buah salak. lumayan… kebetulan aku pernah membeli buah salak yang ia jual. rasanya manis dan enak, salak pondoooh….. aku kalo kekampus mesti ketemu dia. kalo umurnya udah lanjut. terus uniknya lagi ia bawa daganganya keliling kampus, sambil menawarkan kepada mahasiswa, dosen ataupun karyawan. yang jelas setiap orang yang ia temui mesti ditawari.

memang luar biasa nenek tersebut. satu sisi ia memang membuat pemandangan dikampus kurang nyaman. sepertinya dikampusku ngga ada tata tertib saja. namun semua orang dapat memakluminya, mungkin nenek tersebut ngga bisa baca peringatan yang ada di pintu masuk. sisi yang lain aku salut dengan nenek itu, secara ilmu pemasaran ia cukup jeli melihat pangsa pasar, dimana ia jualan ditempat yang ngga ada sainganya. sebab kalo ia jualan dipasar ia akan kalah dengan penjual yang banyak modalnya, dan kalo jualan dimal mesti ngga boleh, sebab akan merusak “pemandangan”. kemudian kalo jualnya dikakilima mungkin ia takut dikejar sapol PP, sedangkan ia tau, kalo lari ngga kuat lagi, udah lapuk…hehe mesti ketangkap…

nek… nenek kasihan betul nasibmu, udah tua renta masih saja engkau berjuang untuk bertarung mengarungi hidup. memang nek, zaman sudah gila…, tak ada yang memperhatikan kita, padahal kita punya negara yang dikelola oleh pemerintah. engkau boleh menanyakan hakmu kepada mereka, sebab yang menggaji pemerintah itu kita, bukan siapa siapa. selayaknya diusiamu yang demikian, engkau seharusnya menikmati hidup dengan lebih baik…tanpa harus bersusah payah.

nenek tersebut hanya satu dari berjuta juta rakyat indonesia yang mengalami nasib sperti dia bahkan lebih buruk…

simbur tjahaja (sumber cahaya)

Diarsipkan di bawah: sosial — peregrination87 @ 12:41 am

Undang-undang

simbur tjahaja

perobahan baharu menurut ketetapan jang

diputuskan dalam permusjawaratan utusan-

utusan Kepala-Kepala anak Negeri pada

tanggal 2 sampai 6 september 1927

dipalembang

 

BAB KE SATU

ADAT BUDJANG GADIS DAN KAWIN

Pasal. 1

Jikalau budjang gadis hendak kawin misti orang tua budjang dan orang tua gadis memberi tahu pasirah atau kepala dusun, itulah “Terang” namanja dan budjang bajar adat terangnja itu “upah tuah” atau upah batin 3 ringgit

Dan 1 1/2 (satu setengah) ringgit pulang kepada Pasirah (amit penutup surat2) dan 11 ringgit pulang kepada kepala dusun dan satu ringgit (djuru namanja) pada penggawa-penggawan. (Bersambung…)

Blog pada WordPress.com.